Sabtu, 19 Juni 2010

taeter kusuma raih juara nasional

F D P N, Teater Kusuma Raih Tiga Nominasi

Sungguh di luar dugaan jika teater kusuma yang berasal dari sekolah desa berhasil meraih 3 nominasi sekaligus dalam Festival Drama Pelajar Nasional (FDPN) yang di selenggarakan Teater Gema IKIP PGRI semarang beberapa waktu lalu.
Tidak pernah disangka dan tidak pernah terbersit dalam ingatan teater kusuma, kalau kepulangan mereka dari Semarang membawakan hasil yang teramat menggembirakan. Kabar gembira itu tidak lain karena teater kusuma berhasil meraih tiga nominasi sekaligus, ketika mengikuti Festival Drama Pelajar Nasional (FDPN) yang diselenggarakan di IKIP PGRI Semarang beberapa waktu lalu.Acara festival yang diselenggarakan selama satu minggu tersebut dikuti oleh dua puluh tiga peserta dari sebelas provinsi di seluruh Indonesia dan Teater kusuma merupakan satu-satunya teater pelajar dari Jepara yang terpilih untuk mengikuti festival tersebut.Mengusung naskah berjudul “Orang Kasar” karya Anton Chekov, saduran W.S. Rendra, Teater kusuma lebih mengedepankan budaya Jepara dalam penggarapan art panggungnya, serta penguatan karakter pada tokoh Baitul Bilal (M. Catur Rahmatullah) sebagai sesosok orang kasar yang menjadi tokoh utama dalam naskah tersebut. Naskah komedi berdurasi satu jam ini merupakan naskah keenam yang pernah digarapnya bersama teater kusuma.Melalui besutan Sutradara Didid Endro S, tampak berbeda Karen dalam penggarapannya memang tidak jauh berbeda dengan naskah-naskah sebelumnya, yakni lebih condong pada pengangkatan kearifan lokal masyarakat Jepara. Tidak hanya dalam berkesenian saja, sutradara sekaligus pelatih teater kusuma ini juga mengaplikasikan latar belakang budaya lokal dalam kesehariannya bersama Sanggar Gaperto yang dikelolanya.Selain itu, dalam menyikapi hal-hal yang tidak diinginkan dalam penggarapan sebuah karya, teater kusuma selalu mengedepankan managemen waktu. Dalam kurun waktu kurang dari satu bulan, teater kusuma berhasil mengubah satu naskah yang dirasa cukup berat menjadi sajian yang memang layak untuk dinikmati.“Saya sangat senang dan bangga ketika malam penganugerahan, teater kusuma mampu meraih tiga nominasi sekaligus. Terhitung, dalam kurun waktu yang lumayan singkat, kami mampu membawa kabar menggembirakan. Di sisi lain, saya merasa kecewa karena lagi-lagi lighting yang kami mainkan masih jauh dari harapan”, ujar Ketua Teater Kusuma, Deckha Afriansyah Salahudin.Kekecewaan ini tidak hanya dirasakan oleh ketua kusuma saja, tetapi juga oleh anggota kusuma yang lain seperti pada event festival sebelumnya. Kendati demikian, bukan menjadi halangan bagi Kusuma untuk tetap berkarya sehingga dalam FDPN berhasil mendapatkan 3 nominasi sekaligus yakni, Nominasi Artistik Terbaik, Nominasi Penyaji Terbaik dan Pemenang Aktor Pembantu Terbaik. Semoga membanggakan…..
Lebih Menghargai Proses
Hasil bukanlah segala-galanya, tetapi proseslah yang lebih utama. Demikianlah kalimat yang sering didengungkan, begitu halnya bagi teater kusuma yang sekarang sudah berumur lima tahun. Bukan waktu yang lama untuk sebuah proses, dan bukan waktu yang pendek untuk sebuah perjalanan.Kendati demikian, Teater Kusuma belum merasa terpuaskan oleh beberapa prestasi yang diraihnya sehingga selalu dituntut untuk meningkatkan intensitas proses berkarya serta menciptakan kreatifitas-kreatifitas yang berarti bagi pembentukan karakter.Selanjutnya, guna menunjang kelanjutan proses, sangat diperlukan berbagai kelengkapan alat pendukung berupa alat musik, kain, kamera, lampu (lighting) beserta dimernya yang selama ini dirasa masih sangat kekurangan.Menurut Ketua Teater Kusuma, Deckha Affriyan Syahlahuddin, ketidaklengkapan property merupakan hal penting dalam pertunjukkan. Tetapi yang lebih utama adalah bagaimana mensikapi agar segala kekurangan dapat diantisipasi agar tidak menjadi ganjalan dan kendala dalam penggarapan naskah-naskah berikutnya.“Yang penting adalah bagaimana kita bisa menikmati proses berkesenian sebagai bentuk perwujudan dari tata kehidupan yang nyata”, tegas DeckhaPrestasi yang berhasil diraih Teater Kusuma, masih menurut Deckha, adalah merupakan hasil dari proses panjang yang tidak sekedar adu gengsi dalam berkegiatan. Tetapi, lanjutnya, jika proses yang dilakukan tidak dinikmati, tentu tidak akan mendapatkan hasil yang maksimal.Artinya, berkegiatan khususnya teater tidak sekedar berbondong-bondong mengejar kepuasan pribadi melainkan ada sesuatu yang bermakna baik dalam pengambilan sikap maupun dalam mengikuti proses belajar mengajar di sekolah. Kemudian, sikap-sikap pembelajaran moral tersebut bisa diaplikasikan dalam tata kehidupan sehari-hari di luar sekolah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pengikut