DI ATAS LANGIT MASIH ADA LANGIT
Dalam kehidupan pasti tiap orang menginginkan kebahagiaan namun bagiku aku tidak pernah merasakan kebahagiaan dan kasih sayang dari orang tuaku,namaku Anita Anjani umurku 17 tahun kini aku duduk di kelas 2 SMA,yang anehnya lagi aku terlahir dalam keluarga yang cukup aneh,mamaku adalah seorang wanita tuna susila/pekerja seks komersial sedangkan papaku adalah mafia judi,pagi ini aku dibuatkan mama sarapan nasi goreng,mamaku sangat peduli akan pendidikanku yang setinggi mungkin tetapi dia tidak memikirkan akan butuhnya kasih sayang seorang mama kepada anaknya.
“mah aku berangkat dulu ya” kataku dengan mengeluarkan sepeda buntutku dari pekarangan rumah,sesampainya di sekolah aku belajar sejenak karena akan diadakan ulangan Maatematika,sejauh ini aku sering mendapatkan juara olympiade dan juara-juara lainnya seperti juara Matematika,juara Sains,juara lomba pidato bahasa inggris dan prestasi yang paling membanggakan buatku adalah aku pernah menjuarai lomba Fisika se-Nasional dan disambut dengan senang oleh Bapak presiden SBY.
“Anjani kamu ngapain pagi-pagi sudah berseteru dengan buku bahasa Inggris” Tanya Tania dia adalah sahabatku disekolah.
“kan sebentar lagi ulangan tan” jawabku
”kamu memang anak yang rajin,eit kalo kamu menang lomba membuat cerpen besok,traktir ya” katanya dengan menyenggol jahil tanganku
”iya deh iya” kataku yang tak berpaling dari pandangan bukuku
”pagi anak-anak” sapa Bu Kasih yang tiba-tiba datang
”pagi bu” kata anak-anak sekelas
Saat pelajaran berlangsung aku hanya mendengarkan Bu kasih menerangkan pelajaran bahasa Inggris tetapi si Tania eh malah asik-asikan smsan dengan pacarnya.dasar Tania.
”teeeeeeeeeettt....” suara bel menggema ditelinga waktunya untuk istirahat tetapi aku tidak bernafsu untuk jajan hari ini bahkan Taniapun memaksaku untuk temani dia jajan di kantin tapi aku tak lapar aku hanya membaca buku dan terus membaca untuk lombaku besok.
Saat pulang sekolah aku melihat mamaku sedang bersama Om-Om lewat di dalam mobil tetapi sepertinya mamaku tidak memperdulikan aku atau bahkan tidak melihaku,aku sering bertengkar dengan mama gara-gara pekerjaanya itu tetapi mamah selalu mejawab ”kamu anak kecil tidak usah ikut campur urusan ouang tua”,
”siang pah,papah sudah makan” tanyaku dengan papah yang asyik membaca koran di teras saat aku pulang dari sekolah
”sudah” jawabya dengan tidak memeperdulikan aku lagi
Dengan bergegas aku ganti pakaian dan makan siang,setelah itu aku membuatkan papahku secangkir kopi hangat karena sepertinya angin membawakan akan kabar hujan
”ini pah kopinya”
”trimakasih Jani” kata papahku dengan langsung meminum kopi tersebut
Setelah aku membuatkan papah kopi aku lanjutkan belajarku untuk mengikuti lomba cerpen besok.dan tak lupa membereskan rumah yang agak kotor ini.hingga larut malam aku masih belajar,aku mendengar suara mobil seseorang di depan rumahku ternyata mamaku baru pulang kerja.
Di kesokan harinya aku dengan semangat mengitkuti loma cerpen dalam rangka hari pendidikan nasional di gedung merah putih pesertanya kira-kira berjumlah ratusan orang dan dari macam-macam sekolah,aku kesana didampingi oleh guruku yaitu Pak Hasan,pak Hasan adalah guru terbaik disekolahku walaupun agak sedikit galak tetapi pak Hasan sebenarnya orangnya baik dan selalu membantuku dalam permasalahan di sekolah. Beberapa waktu menunggu untuk pengumuman lomba akhirnya aku jatuh sebagai juara pertama untuk lomba cerpen remaja tingkat kota,aku senag sekali aku harap orang tuaku juga begitu.
Seharian mengkuti lomba terasa badan ini remuk redam dan capek tak terkira,setelah aku sampai dirumah aku mendapati kedaan rumah yang kosong dan tikus-tikus berseng ria menikmati makanannya di lantai.
”tok..tok..tok..”suara pintu rumahku,setelah aku buka ternyata Pak Sarip dia berkata
”Jani papahmu ada di kantor polisi sekarang,tadi aku diberitahu oleh orang-orang kalau papahmu kegrebek sedang judi di kolong jembatan”
”hah apa..” kataku dengan tak sengaja gelas yang ku pegang terjatuh dari tanganku dan berserakan di lantai ini karena aku kaget dan terkejut mendengar berita itu
pak Sarip pun langsung berkata ”trimakasih” dan pergi meninggalkan rumahku,setelah sekian lama aku menunggu mamahku pulang dari kerja akhirnya mamahku pulang juga
”mah papah di kantor polisi kita harus menengoknya sekarang” kataku dengan gugup dan mataku berkaca-kaca walaupun bagaimanapun papah adalah papahku dan aku adalah anaknya
”mah mamah dengar tidak sih” kataku kembali karena mamah tidak memperhatikan omonganku ini tetapi malah asik menghitung segenggam uang yang didapatkannya itu dari kerja
”apa sih ini anak kecil,ya biarin saja papahmu di penjara dia pantas mendapatkannya”
”apa mamah bilang pantas sepantas apakah mamah bekerja sebagai wanita malam” bentakku dan
”plaaaaakkk....” tamparan di pipiku dari tangan mamahku membuat aku diam seribu bahasa dan berhenti berseteru dengan mamah dimalam itu walau air mataku tak henti menetes.
Aku tidak memikirkan lagi tentang masalah itu sekarang,tetapi aku memikirkan datang kekantor polisi untuk menjenguk papah yang kedinginan dan kelaparan disana,dengan cermat aku memilih-milih baju yang pantas untuk diberikan kepada papah dari lemari juga aku memebuatkan makanan telur dadar dan sambal terasi yang terbungkus kertas minyak sebagai makanan papah disana.aku mengayuhkan sepadaku dimalam itu untuk pergi ke kantor polisi walaupun hujan menetes dengan miliaran tetesan air yang jatuh dari awan aku tak peduli,dan tasku yang usang ku dekap dengan erat didada karena aku takut akan basah semua yang akan ku berikan semua kepada papah.
”malam pak saya mau menengok orang yang namanya Pak Antoio ada tidak?” kataku kepada salah satu polisi yang berjaga di pintu malam itu.
”adik anaknya?” akupun hanya mengagnggukan kepalaku
”maaf ya dik tapi malam sudah larut jam besuk sudah lewat dan tidak boleh kalau sekarang,mungkin adik besok bisa kembali kesini lagi supaya bisa bertemu dengan ayahmu” kata polisi tersebut
”kalo begitu ini pak ada sebungkus nasi dan beberapa pakaian untuk papah saya tolong diberikan ya pak” kataku dengan menyerahkan sebungkus nasi dan pakaian-pakiannya papah
”oh iya tentu nanti akan saya berikan”
”trimakasih pak aku pulang dulu” kataku kembali,akupun pulang meski hujan sedikit reda.
Beberapa minggu sudah berlalu kini giliran mamah yang menghilang,kata orang-orang mamah kegrebek sedang pesta narkoba di sebuah kos milik temannya.kini aku tinggal sendiri dan mencukupi hidupku sendiri biasanya aku memulung sepulang sekolah atau mungkin ngamen di perempatan jalan juga sebagai buruh cuci pakaian-pakaian tetangga hanya itu yang dapat aku lakukan untuk mencukupi kebutuhanku sehari-hari juga untuk bayar sekolahku.
Tiga tahun sudah ku jalani kehidupan pahit ini sendirian,kini aku menjadi seorang pebisnis barang-barang aksesoris yang ku iklankan banyak di dunia maya,aku mendapatkan modal ini dari temanku,dan uang ini juga cukup untuk biaya kuliahku di sebuah Universitas Kedokteran ternama di kotaku walaupun aku mendapatkan bea siswa.
Kamis 01 Agustus 2010 aku menjemput papahku pulang dari penjara,saat pertama keluar dari penjara papah terasa senang dan dia berjanji akan menghidupi aku dengan uang yang halal
”kamu adalah anak yang pandai dan cerdik anakku sekarang kamu sukses sebagai pengusaha dan seorang mahasiswi,papahmu ini bangga sekali dengan kamu anakku,aku sayang kamu anakku,maafkan papahmu selama ini” papah berkata begitu dengan memelukku erat.
”trimakasih papah,aku juga sayang papah” hanya itu yang dapat aku ucapkan sekarang walaupun beban kelargaku kurang terselesaikan satu yaitu mamah.aku sadar kalau ingin hidup bahagia harus dengan perjuangan hebat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar